Pemerintah Diminta Tambah Insentif untuk Lawan Harga Mahal Mobil Listrik

Article Header Image

Pemerintah Diminta Tambah Insentif untuk Lawan Harga Mahal Mobil Listrik

Author Avatar Image
Galih Kresnawan —

Target Pemerintah Indonesia agar masyarakat mampu mengadopsi 400 ribu kendaraan beremisi karbon rendah (LCEV) pada 2025 memang terus dikejar. Lewat Kementrian Perindustrian, pemerintah akan mengeluarkan beberapa aturan untuk mempercepat proses peralihannya.

Salah satu langkah yang diambil adalah memberikan insentif agar mobil listrik dapat bersaing dengan kendaraan konvensional. Insentif ini dibagi menjadi dua jenis yaitu insentif bagi konsumen dan juga insentif bagi perusahaan pemroduksi kendaraan listrik.

Untuk konsumen yang telah ditetapkan adalah insentif PPnBM 0% apabila kendaraannya memliki tingkat kandungan dalam negeri (TKDN). Kemudian juga ada diskon tarif listrik dan diskon tambah daya dari PLN. Mobil listrik juga bebas dari aturan ganjil-genap dan beberapa insentif lain seperti PKB maksimal 10%, DP 0% oleh beberapa bank, dan juga suku bunga ringan.

Sedangkan perusahaan memperoleh insentif berupa tax holiday, mini tax holiday, tax allowance, pembebasan bea masuk, bea masuk yang ditanggung pemerintah, dan super tax deduction untuk kegiatan riset dan pengembangan.

Namun dengan semua insentif tersebut, pengembangan mobil listrik di Indonesia masih membutuhkan insentif pajak agar harga produknya dapat lebih terjangkau. Insentif tambahan tersebut antara lain adalah penghapusan bea masuk untuk impor kendaraan listrik dalam bentuk utuh (completely built up/CBU), serta penghapusan pajak pertambahan nilai (PPN) dan pajak penghasilan (PPh).

Selain itu, ada beberapa insentif khusus yang dapat membuat mobil listrik ini menjadi semakin menarik. Salah satunya adalah insentif tarif tol, karena biaya tol dianggap lebih mahal 3 kali lipat dari biaya pengisian daya mobil listrik yang setara dengan jarak Jakarta ke Surabaya.

Kemudian, ada juga usulan untuk diskon tarif parkir hingga 1 atau 2 tahun ke depan. Insentif ini diyakini bisa meningkatkan penjualan mobil listrik perusahaan, terutama untuk mobil-mobil listrik yang diproduksi di Cikarang.

Beberapa usulan insentif di atas  dianggap penting karena harga mobil listrik di Indonesia masih terlampau tinggi dari rentang daya beli masyarakatnya. Riset Universitas Indonesia (UI) menunjukkan bahwa harga ideal untuk mobil listrik berkisar pada harga Rp300 hingga Rp350 juta, padahal harga mobil listrik rata-rata masih di atas Rp600 juta-an. Yang artinya masih dua kali lipat dari kemampuan beli masyarakat Indonesia.

Sumber: idxchannel