Pemerintah Berambisi Buat SPKLU di Indonesia Berteknologi Fast Charging Cukup Satu Jam

Article Header Image

Pemerintah Berambisi Buat SPKLU di Indonesia Berteknologi Fast Charging Cukup Satu Jam

Author Avatar Image
Galih Kresnawan —

Indonesia tentunya menjadi salah satu negara yang kini juga terbilang cukup serius untuk mengembangkan teknologi kendaraan listrik saat ini. Pabrik baterai kendaraan listrik pertama di Indonesia akan segera dibangun Agustus mendatang, dan untuk mendukung hal tersebut pemerintah juga melakukan pengembangan lanjutan pada sisi infrastrukturnya.

Seperti yang diungkapkan oleh Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza saat berada di acara Energy Corner milik CNBC Indonesia bahwa pemerintah Indonesia berambisi untuk membuat teknologi kendaraan listrik dengan baterai yang bisa diisi penuh dalam waktu lebih singkat.

“Kelemahan untuk baterai EV (electric vehicle/kendaraan listrik), salah satunya waktu charging yang lama. Ini challenge kita, bagaimana menciptakan baterai yang bisa diisi penuh 1-2 jam,” Jelas Hammam

Hammam Riza saat memberikan pernyataannya di Energy Corner. Credit: CNBC Indonesia

Teknologi Fast charging yang tersedia hingga saat ini sendiri dianggap masih belum mencukupi untuk proses alih teknologi karena masih membutuhkan waktu 3-4 jam untuk mengisi penuh mobilnya.

Menurut Hammam BPPT selamat tiga tahun mencoba membangun prototip untuk Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang nantinya diharapkan bisa diterapkan di Indonesia. Dirinya juga mengatakan bahwa memang membutuhkan konsistensi dan komitmen untuk dapat melakukan alih teknologi.

Dalam kesempatan yang sama Indonesia Battery Corporation (IBC) milik BUMN juga menargetkan untuk pembangunan smelter High Pressure Acid Leaching (HPAL) yang akan menghasilkan salah satu komponen baterai kendaraan listrik yang dimulai pada 2022 mendatang.

Salah satu bangunan SPKLU PLN sekarang. Credit: Redaksi7

“Pabrik HPAL diharapkan bisa selesai dua tahun, akhir 2024 sudah terealisasi, sehingga kita bisa dapatkan komponen untuk proses selanjutnya, precursor dan katoda baterai,”  Ungkap Ketua Tim Percepatan Baterai Kendaraan Listrik – Agus Tjahajana Wirakusumah.

Kedepannya, IBC menargetkan hingga 2030 dapat membangun 30 Giga Watt hours (GWh) baterai. Yang akan dilanjutkan dengan pembangunannya hingga berkapasitas 140 ribu GWh. Keputusan untuk membangun secara bertahap tersebut dikarenakan pasar yang masih belum besar, sehingga lebih realistis untuk pabrik juga dibangun secara bertahap.


Jangan lupa follow kita di Instagram @momotrik.id dan juga like Facebook Page kita di @momotrik.id untuk medapatkan informasi menarik lainnya seputar mobil dan motor listrik!!